Sabtu, 09 Maret 2013

Konsep Dasar Seni Rupa



A.      Konsep Dasar Seni Rupa

       Seni rupa adalah salah satu cabang kesenian,seni rupa merupakan ungkapan gagasan dan perasaan manusia yang diwujudkan melalui pengolahan median dan penataan elemen serta prinsip-prinsip desain.
       Seni rupa merupakan realisasi imajinasi yang tanpa batas dan tidak ada batasan dalam berkarya seni. Sehingga dalam berkarya seni tidak akan kehabisan ide dan imajinasi. Dalam seni rupa murni, karya yang tercipta merupakan bentuk dua dimensi dan tiga dimensi. Sehingga objek yang dibuat merupakan hasil dari satu atau lebih dari media yang ada (sebagai catatan bahwa media atau bahan seni di dunia juga tidak terbatas).
   Dalam berkarya seni, tidak pernah ada kata salah dan juga tidak ada yang mengatakan salah pada karya yang telah diciptakan. Namun demikian, di dalam proses berkarya seni, karena dalam hal ini adalah proses belajar, maka harus dilakukan dengan cara yang benar, sesuai dengan tujuan dari pembelajaran. Untuk anak usia dini (0 – 8 tahun), ketika belajar tentang seni rupa tidak hanya bertujuan untuk berproses berkarya seni saja, karena selain itu juga diharapkan dapat memberikan fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial, emosional serta kemandirian pada anak. Jadi dengan bimbingan yang tepat, seorang anak akan dapat melatih potensi-potensi yang bermanfaat.
       Seni rupa atau seni yang tampak adalah salah satu bentuk kesenian visual atau tampak ada yang tidak hanya bisa diserap oleh indera penglihatan, tetapi juga bisa oleh indera peraba, maksudnya adalah teksturnya dapat dirasakan, misalnya kasar, halus, lunak, keras, lembut, dsb. Namun tidak menutup kemungkinan tekstur ini adalah tekstur maya (ada namun tidak nyata) atau tekstur ini seolah-olah ada yang dikarenakan mata kita dikelabuhi oleh sesuatu yang tampak, misalnya sebuah foto kayu : disitu seolah-olah kita melihat adanya tekstur namun kenyataannya tekstur itu tidak ada jika kita merabanya
1. Fungsi Seni Rupa
Seni rupa dapat berfungsi sebagai :
a.         media ekspresi
b.         media komunikasi
c.          media pengembangan bakat
d.         media pendidikan.
     2. Aspek seni rupa
a. Aspek grahita
b.Aspek Garapan
c.Aspek Tata
                                                                                                                                  
3       .       3. Jenis Karya Seni Rupa
a.  Karya rupa murni yakni karya seni rupa yang sengaja diciptakan sebagai sarana ekspresi komunikasi,rekreasi dan terapi.Karya seni rupa murni ini dapat berupa dwimarta ataupun trimatra.
b. Karya seni rupa terapan yang sengaja dicipta untuk tujuan fungsional.Karya seni rupa ini pun mencakup 2 macam yakni dwimarta dan trimarta

B.       Konsep Pendidikan Seni Rupa SD

       Pendidikan Seni Rupa sesungguhnya merupakan istilah yang relatif baru digunakan dalam dunia persekolahan. Pada mulanya digunakan istilah menggambar. Penggunaan istilah pengajaran menggambar ini berlangsung cukup lama hingga kemudian diganti dengan istilah Pendidikan Seni rupa.Materi pelajaran yang diberikan tidak hanya menggambar tetapi juga beragam bidang seni rupa yang lain seperti mematung, mencetak, menempel dan juga apresiasi seni. Tujuan pengajaran menggambar di sekolah adalah untuk menjadikan anak pintar menggambar melalui latihan koordinasi mata dan tangan.
 Pendidikan seni merupakan sarana untuk pengembangan kreativitas anak. Pelaksanaan pendidikan seni dapat dilakukan melalui kegiatan permainan. Tujuan pendidikan seni dapat dilakukan melalui kegiatan permainan. Tujuan pendidikan seni bukan untuk membina anak-anak menjadi seniman, melainkan untuk mendidik anak menjadi kreatif. Seni merupakan aktifitas permainan, melalui permainan kita dapat mendidik anak dan membina kreativitasnya sedini mungkin. Dengan demikian dapat dikatakan seni dapat digunakan sebagai alat pendidikan. Pendidikan Seni Rupa adalah mengembangkan keterampilan menggambar, menanamkan kesadaran budaya lokal, mengembangkan kemampuan apreasiasi seni rupa, menyediakan kesempatan mengaktualisasikan diri, mengembangkan penguasaan disiplin ilmu Seni Rupa, dan mempromosikan gagasan multikultural.

C.      Perkembangan Konsep Seni Rupa

1.      Barat (Eropa dan Amerika)
a.    Ruskin (Inggris, 1857)
The Element of Drawing (menggambar bagian seni rupa dengan metode meniru dan latihan.
b.    Corrado Rici
Gambar Anak yang Unik
c.    Ebenezer Cokke
Gambar bagan/skema karya anak sebagai lambing ekspresinya
d.   Fredich Froebel
Mengganti pengembangan daya ingat dengan bermain seni rupa
e.    Pestalozzi
Pentingnya pembelajaran menggambar sebagai sarana mempertajam pengamatan-pengamatan dan memperoleh pengetahuan.
f.     Herman Lukena
Fase-fase menggambar anak yaitu, (1) Fase corengan, (2) Fase Keemesan, dan (3) Fase Kritis
g.    Frans Cizek
Beliau adalah bapak seni rupa anak yang mengembangkan Pendidikan progresif terhadap pendidikan ekspresi bebas.
2.      Indonesia
       Perubahan ke arah pembelajaran yang berbasis kompetensi. Siswa diharapkan mengenal budaya local. Dan mempertegas social budaya dalam seni. Mempertegas Kebudayaan local dengan memperbanyak kerajinan tangan dan ukir. Dan menjadikan pelajaran menggambar sebagai sarana berekspresi.
D.      Pendekatan Seni Rupa

        Pembelajaran Pendidikan Seni dilaksanakan baik dengan pendekatan terpisah dan terpadu. Pendekatan terpisah ialah melaksanakan pembelajaran setiap bidang seni, sesuai dengan ciri-ciri khusus dan kesatuan substansi masing-masing. Pendekatan terpadu ialah melaksanakan pembelajaran yang memadukan bidang-bidang seni dalam bentuk seni pertunjukan, seni multimedia, atau kolaborasi seni. Pembelajaran Pendidikan Seni secara terpadu meliputi pembelajaran apresiatif dan produktif.
Pembelajaran apresiatif secara terpadu dilaksanakan dengan kegiatan apresiasi terhadap karya seni yang merupakan perpaduan antara dua atau lebih bidang seni, baik secara langsung maupun melalui media audio-visual, misalnya pertunjukan musik, tari, teater, atau film. Pembelajaran produktif secara terpadu dilaksanakan dengan kegiatan berkarya dan penyajian seni yang melibatkan dua atau lebih bidang seni, misalnya dalam bentuk seni pertunjukan atau kolaborasi antar bidang seni.
Alternatif pelaksanaan mata pelajaran Pendidikan Seni sebagai berikut. Sekolah yang memiliki lebih dari satu guru bidang seni, masing-masing guru memberikan pembelajaran seni sesuai dengan bidangnya secara terpisah. Siswa memilih salah satu bidang seni sesuai dengan minatnya. Pembelajaan secara terpadu dilaksanakan dengan kerja sama antara guru-guru bidang seni yang bersangkutan. Sekolah yang hanya memiliki guru salah satu bidang seni, guru tersebut melaksanakan pembelajaran seni sesuai dengan bidangnya, tetapi sedapat mungkin juga melaksanakan pembelajaran seni secara terpadu, sesuai dengan kemampuannya.
Materi pokok yang bersifat teoritik tidak diberikan secara terpisah, tetapi secara integratif dengan materi kegiatan apresiasi seni, berkarya seni, kritik seni, dan penyajian seni. Pembelajaran yang bersifat praktek (berkarya) lebih berorientasi pada proses dari pada hasil, sehingga lebih menekankan usaha membentuk dan mengungkapkan gagasan kreatif dari pada kualitas komposisi yang dihasilkan.
       Dalam pembelajaran Pendidikan Seni, pengembangan sikap memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan keterampilan, dan pengetahuan. Untuk menunjang pembelajaran materi yang mengarah pada penguasaan keahlian profesional, termasuk menggambar dengan mistar (menggambar konstruksi), perlu ditunjang dengan program ekstrakurikuler, sesuai dengan bakat dan minat siswa.
        Di sekolah umum, baik pendidikan dasar maupun pendidikan menengah, pendidikan seni rupa sebaiknya ditempatkan sebagai mata pelajaran yang mengimbangi mata pelajaran lain. Pendidikan seni rupa yang dalam pelaksanaannya lebih memberikan kebebasan berekspresi dan memberikan saluran emosi akan sangat berperan dalam mengembangkan mental-spiritual anak-anak. Pendidikan seni sebagai pengimbang mata pelajaran lain –yang menekankan pada pengembangan rasio/intelektual- dibutuhkan dalam rangaka membangun semangat dan motivasi belajar yang utuh. Pendekatan dalam pelaksanaan pendidikan seni rupa di sekolah umum, terutama pada tingkat pendidikan lanjutan, harus memperhatikan dan mempertimbangkan bahwa pendidikan seni sebagai wahana bermain yang bermuatan edukatif dan membangun kreativitas.
       Jika kita menggunakan seni sebagai cara dan sekaligus sarana pendidikan, maka pendekatannya pun harus sesuai dengan tujuan penciptaan seni, meskipun seninya tidak kita tempatkan sebagai tujuan pendidikan. Pendekatan yang utama dalam pembelajaran pendidikan seni rupa ialah pendekatan inspiratif. Karya seni merupakan curahan emosi yang diberi bentuk yang indah dan kreatif. Karena itu karya seni hanya akan lahir dari hati penuh keharuan. Untuk memancing tercuurahkannya keharuan itu, maka kita gunakan pendekatan inspiratif. Pendekatan inspiratif akan mengembangkan inpsirasi, terutama untuk anak-anak yang memerlukannya, agar hatinya tergugah untuk berkarya seni. Pendekatan inspiratif ialah suatu cara yang dapat ditempuh untuk menggerakkan keharuan anak-anak agar mereka dapat mencurahkan ekspresinya ke dalam bentuk karya seni. Pendekatan inspiratif dapat menggugah keharuan karena pengalaman lama terpancing atau dapat juga memberi pengalaman baru yang menggugah keharuan anak-anak.




Bentuk-bentuk penggugah keharuan yang oleh Lansing disebut dengan istilah stimulation dan cultural stimulation. Ia juga membedakan atas:
                        - direct experience as a form stimulation,
                        - verbal stimulation,
                        - art material as stimulation, dan
                        - audio-visual aids as stimulation.

Untuk memperjelas perbedaan keempat stimulasi daya cipta seni, berikut ini akan dipaparkan secara singkat pengertiandan beberapa contohnya.
1. Stimulasi Klasikal Rutin
       Stimulasi ini yang paling memungkinkan ditetapkan dalam penyusunan rencana pembelajaran semester atau catur wulan. Hal ini disebabkan semua anak dalam satu kelas akan menghayati keadaan, kejadian, atau peristiwa yang sama (yang dijadikan stimulasi). Kejadian atau peristiwanya dapat diramalkan, karena datangnya rutin.

2. Stimulasi Individual Rutin
       Stimulasi individual rutin adalah pengalaman atau peristiwa yang dialami anak secara perorangan. Pengalaman atau peristiwa itu datang secara rutin. Misalnya hari ulang tahun yang dirayakan keluarga dan mengesankan bagi siswa. Cerita ibu menjelang tidur, jika sudah menjadi kebiasaan ibu bercerita pada anak sebelum tidur.

3. Stimulasi Klasikal Insidental
       Stimulasi ini dapat menggali kejadian-kejadian atau keadaan yang akan atau telah dialami oleh anak-anak dalam satu kelas yang terjadi secara insidental (sewaktu-waktu, yang tidak diduga sebelumnya, tidak berencana jauh sebelumnya). Misalnya, perkenalan dengan ibu guru baru, perpisahan dengan Bapak Kepala Sekolah, kawan baru kami, kelas kami juara kebersihan dan keindahan kelas, dan lain-lain.

4. Stimulasi Individual Insidental
       Stimulasi ini berguna untuk menggugah pengalaman perorangan yang bersifat sewaktu-waktu (insidental). Seorang anak pada suatu saat mengalami peristiwa yang tidak terduga dan peristiwa itu tentu saja tidak dialami oleh orang lain. Misalnya: mendapat hadiah lomba lukis, aku sakit gigi, ayahku wafat, adik kecilku lahir, dan sebagainya. Stimulasi jenis ini biasanya dilakukan pada kasus perorangan yang mengalami hambatan ketika diberikan stimulasi klasikal. Yang mengalami hambatan seperti ini sebagai gejala inspirasi yang distimulasi oleh guru ke semua anak (klasikal) tidak dapat berkembang dalam imajinasi anak tertentu. Sehingga guru perlu mendekati anak tersebut secara perorangan.

E.       Peran Seni Rupa

       Bermain bagi anak merupakan kegembiraan dan kesibukan yang penting. Dalam bertanya seni rupa dapat menimbulkan kegembiraan. Kegembiraan anak nampak dan terlihat disebabkan oleh keaktifan atau kesempatan bergerak, bereksperimen, berlomba dan berkomunikasi. Dapat pula dilihat betapa senangnya anak-anak berkarya melalui seni rupa, mereka akan bergerak-gerak dengan sadar atau tidak, mencoba-coba sesuatu yang diinginkan. Dalam kelompok mereka selalu berlomba untuk menyelesaikan karyanya sesuai dengan gagasannya. Apabila anak berhasil berkarya, dengan spontan ia akan berteriak dan bergerak, menandakan kegembiraannya. Anak berkarya sesuai dengan daya fantasinya dan apa yang dicapainya perlu mendapat pemahaman/pengertian orang lain. Bermain sangat berguna bagi perkembangan anak untuk persiapan dalam kehidupan masa dewasa. Permainan dimaksudkan antara lain : Permainan “membentuk”; melatih anak untuk berkarya. Permainan “fungsi”; melatih berbagai macam aktivitas fisik. Permainan “peranan”; berguna untuk menyiapkan anak mampu melakukan peranan dalam kehidupan di kemudian hari. Permainan “menerima”; berguna untuk memupuk kemampuan menerima kebudayaan.


1.    Peranan Guru

       Peranan guru di kelas adalah menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dan memahami karakteristik siswa sebagai anak didik di kelasnya. Dalam melaksanakan kegiatan kelas guru harus menjadi pengelola, perencana, penyuluh dan perancang program yang baik dan tuntas. Guru yang simpatik, imajinatif, kreatif dan luas pengetahuannya. Adalah prasarat mutlak bagi guru sekolah dasar.

2.    Peranan Sekolah
       Sekolah berperan sebagai tempat membina dan melatih diri melalui pengajaran dan pendidikan untuk mengatasi segala masalah di masyarakat kelak setelah anak menyelesaikan sekolah. Di sekolah anak-anak dihadapkan pada tuntutan untuk tetap bersikap teratur berdisiplin (diam/tenang), memperhatikan petunjuk-petunjuk guru, menguasai seluruh perangkat.



DAFTAR PUSTAKA



Sanyoto.(2005). Dasar-Dasar Tata Rupa dan Desain. Yogyakarta: Erlangga.

______. (2012). Seni Rupa. [Online]. Tersedia: http://tugaskesenian-desiastuti.blogspot.com/2012/07/perbedaan-karya-seni-rupa-anak-anak-dan.html/[15-2-2013]

______. (2012). Seni Rupa Pada Anak. [Online]. Tersedia: http://motzter.com/2045/peran-seni-rupa-pada-anak/[15-2-2013]

______. (2012). Konsep Pendidikan Seni Rupa. [Online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._SENI_RUPA/196202071987031-NANANG_GANDA_PRAWIRA/KONSEPPENDIDIKAN_SENI.pdf/[15-2-2013].

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar