Sabtu, 09 Maret 2013

Perkembangan Sosial Anak Sekolah Dasar

KATA PENGANTAR

            Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW., kepada keluarga, sahabat, dan kepada seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Mengingat begitu besarnya sumbangsih peran pendidikan dalam perkembangan sosial kehidupan manusia maka kehidupan anak dalam menelusuri perkembangannya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi.
Makalah ini memaparkan konsep perkembangan sosial anak sekolah dasar, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial, karakteristik perkembangan social pada anak, dan manfaat mempelajari perkembangan sosial anak sekolah dasar. Makalah ini merupakan tugas kelompok yang disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik yang dibina oleh Syarif Hendrayana S.Pd, M.Pd.
Akhirul kalam, terimakasih kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah banyak membantu kami atas sumbangsih pemikiran berharga bagi penulisan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai acuan dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan guna kelengkapan makalah ini. Sesungguhnya hanya Allah Dzat Yang Maha Sempurna.
Purwakarta, Februari 2013

Penulis




i
 
 


DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ........................................................................................ i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I  PENDAHULUAN ………………………………………………….... 1
A.       Rasional. ............................................................................................. 1
B.        Rumusan Masalah ............................................................................... 2
C.        Tujuan Penulisan.............................................................................. ... 2
D.       Prosedur Pemecahan Masalah.............................................................. 3
E.        Sistematika Penulisan ...................................................................... ... 3
BAB II  PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK SD ………………………..... 4
A. Pengertian Perkembangan Sosial............................................................ 4
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial .................... 5
C. Karakteristik Perkembangan Sosial Anak SD ....................................... 7
D. Tujuan Mempelajari Perkembangan Sosial Anak SD ........................... 10
BAB III KESIMPULAN .................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ iii













ii
 
 
BAB  I
PENDAHULUAN


A.  Rasional
Menurut Yusuf (2008:180) Perkembangan Sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan social. Dapat juga dikatakan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral (agama).
Sedangkan menurut Muijs dan Reynolds (2008:201) Hubungan sebaya sangat penting bagi perkembangan anak. Teman memberikan companionship (perkawanan) dan dukungan, memungkinkan anak untuk mengambil bagian di dalam kegiatan-kegiatan sosial-rekreasional yang tidak dapat dilakukan sendiri, yang penting bagi perkembangan keterampilan sosial anakPendidikan yang baik tentu akan memberi sumbangan yang baik pula pada semua bidang pertumbuhan individu.
 Menurut Sunarto dan Hartono (2006:126) Lingkungan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan berbagai aspak kehidupan, terutama kehidupan sosio-psikologis. Manusia sebagai makhluk sosial, senantiasa berhubungan dengan sesama manusia. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian terhadap lingkungan kehidupan sosial, bagaimana seharusnya seseorang hidup dalam kelompoknya, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok masyarakat luas.



1
 
 
2
 
 Mengingat begitu besarnya sumbangsih peran pendidikan dalam perkembangan sosial kehidupan manusia maka kehidupan anak dalam menelusuri perkembangannya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi.
       Berdasarkan redaksi diatas maka dianggap perlu disusun sebuah makalah dengan judul Perkembangan Sosial Anak Sekolah Dasar.

B.     Rumusan masalah
       Dalam makalah ini perlu kiranya untuk merumuskan permasalahan agar sistematik dan spesifik dalam memberikan arah permasalahan. Adapun rumusan masalah sebagai berikut:
1.        Apa yang dimaksud dengan perkembangan sosial anak sekolah dasar?
2.        Apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak sekolah dasar?
3.        Bagaimana karakteristik perkembangan sosial anak sekolah dasar?
4.        Untuk apa guru mempelajari perkembangan sosial anak sekolah dasar?

C.    Tujuan Penulisan
       Tujuan yang hendak dicapai pada penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.    Mengetahui pengertian perkembangan sosial anak sekolah dasar
2.    Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak sekolah dasar
3.    Mengetahui karakteristik perkembangan sosial anak sekolah dasar
4.   
3
 
Mengetahui tujuan guru mempelajari perkembangan sosial anak sekolah dasar.
D.  Prosedur Pemecahan Masalah
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pada rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka penulis akan menempuh langkah-langkah yang diperlukan yang diantaranya sebagai berikut :
1.        Studi literatur, yaitu dengan cara mengumpulkan buku-buku yang berkaitan dengan materi.
2.        Memilih dan memilah serta mempelajari dan menganalisis data literatur yang telah diperoleh.
3.        Membuat makalah.

E.  Sistematika Penulisan
       Bab I Pendahuluan yang meliputi rasional, rumusan masalah, tujuan penulisan, prosedur pemecahan masalah, dan sistematika penulisan.
       Bab II Tinjauan pustaka yang meliputi Pengertian Perkembangan Sosial,  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial, Karakteristik Perkembangan Sosial Anak SD, Tujuan Mempelajari Perkembangan Sosial Anak SD,
       Bab III Kesimpulan








BAB II
PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK SEKOLAH DASAR

A.  Pengertian  Perkembangan Sosial
       Menurut Yusuf (2008:180) Perkembangan Sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga dikatakan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral (agama). Perkembangan sosial pada anak sekolah dasar ditandai dengan adanya perluasan hubungan, disamping dengan keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya (peer group) atau teman sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah bertambah luas.
       Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.
       Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirsakan sejak usia enam bulan, disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang.
       Menurut Sunarto dan Hartono (2006:128) Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat kompleks.
4
 
       Menurut Piaget yang dikutip Sunarto dan Hartono (2006:127) mengungkapkan bahwa interaksi sosial anak pada tahun pertama sangat terbatas, terutama hanya dengan ibunya. Perilaku sosial anak tersebut berpusat pada akunya atau egocentric dan hamper keseluruhan perilakunya berpusat pada dirinya.
5
 
       Kebutuhan bergaul dan berhubungan dengan orang lain ini telah dirasakan sejak anak berumur enam bulan, di saat anak itu telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Semakin dewasa atau sekitar usia sekolah dasar, anak berinteraksi dengan sebayanya, anak akan belajar tentang bagaimana bergabung dengan kelompok, menjalin pertemanan baru, menangani konflik, dan belajar bekerja sama. Jadi, ada semacam lingkaran setan bagi sebagian anak, dalam arti bahwa keterampilan sosial yang kurang menyulitkan mereka untuk bergabung dengan kelompok sebayanya, yang pada gilirannya menghambat perkembangan keterampilan sosialnya.
       Dari beberapa pengertian diatas dapat dimengerti bahwa semakin bertambah usia anak maka semakin kompleks  perkembangan sosialnya, dalam arti mereka semakin membutuhkan orang lain. Tidak dipungkiri lagi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mampu hidup sendiri, mereka butuh interaksi dengan manusia lainnya, interaksi sosial merupakan kebutuhan kodrati yang dimiliki oleh manusia.
     
B.  Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak
       Faktor yang dapat mengganggu proses sosialisasi anak, menurut Soetarno dalam Shinta (16: http://www.slideshare.net/shinta1304/perkembangan-sosial-anak-usia-sd) berpendapat bahwa ada dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan sosial anak, yaitu faktor lingkungan keluarga dan faktor dari luar rumah atau luar keluarga. Penjelasan dari dua faktor tersebut adalah:
1.    Faktor  Keluarga
       Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan sosial anak. Diantara faktor yang terkait dengan keluarga dan yang banyak berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak adalah hal-hal yang berkaitan dengan: (a) Status sosial ekonomi keluarga, (b) Keutuhan keluarga, dan (c) Sikap dan kebiasaan orang tua.


6
 
2.  Faktor Lingkungan Luar Keluarga
       Pengalaman sosial awal diluar rumah melengkapi pengalaman didalam rumah dan merupakan penentu yang penting bagi sikap sosial dan pola perilaku anak. Sedangkan menurut Hurlock (1978:44) menambahkan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak, yaitu faktor pengalaman awal yang diterima anak. Pengalaman sosial awal sangat menentukan perilaku kepribadian selanjutnya.
a.       Faktor teman sebaya
       Makin bertambah umur, si anak makin memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengadakan hubungan-hubungan dengan teman-teman sebayanya, sekalipun dalam kenyataannya perbedaan-perbedaan umur yang relatif besar tidak menjadi sebab tidak adanya kemungkinan melakukan hubungan-hubungan dalam suasana bermain.
b.      Keragaman budaya
       Bagi perkembangan anak didik keragaman budaya sangat besar pengaruhnya bagi mental dan moral mereka. Ini terbukti dengan sikap dan prilaku anak didik selalu dipengaruhi oleh budaya-budaya yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Pada masa-masa perkembangan, seorang anak didik sangat mudah dipengaruhi oleh budaya-budaya yang berkembanga di masyarakat, baik budaya yang membawa ke arah prilaku yang positif maupun budaya yang akan membawa ke arah prilaku yang negatif.
c.       Media Massa
       Media massa adalah faktor lingkungan yang dapat merubah atau mempengaruhi prilaku masyarakat melalui proses-proses. Media massa juga sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan seseorang, dengan adanya media massa, seorang anak dapat mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan dengan pesat. Media massa dapat merubah prilaku seseorang ke arah positif dan negatif.

7
 
       Sekolah juga mempunyai pengaruh yang sangat penting bagi perkembangan sikap sosial anak, karena selama masa pertengahan dan akhir anak-anak. Anak-anak menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah sebagai anggota suatu masyarakat kecil yang harus mengerjakan sejumlah tugas dan mengikuti sejumlah aturan yang menegaskan dan membatasi perilaku, perasaan dan sikap mereka (Santrock dalam Sinolungan)
             Faktor Pendukung perkembangan anak, antara lain : (1) Terpenuhi kebutuhan gizi pada anak tersebut, (2) Peran aktif orang tua, (3) Lingkungan yang merangsang semua aspek perkembangan anak, (4) Peran aktif anak, (5) Pendidikan orang tua.
       Di sekolah, guru membimbing perkembangan kemampuan sikap, dan hubungan sosial yang wajar pada peserta didiknya. Hubungan sosial yang sehat dalam sekolah dan kelas seyogyanya diprogram, dikreasikan, dan dipelihara bersama-sama dalam belajar, bermain dan berkompetisi sehat. Sekolah mengupayakan layanan bimbingan kepada peserta didik. Bimbingan selain untuk belajar adalah untuk penyesuaian diri ke dalam lingkungan atau juga penyerasian terhadap lingkungannya. Kepada siswa diajarkan tentang disiplin dan aturan melalui keteraturan atau conformity yang disiratkan dalam tiap pelajaran (Sinolungan, 2001:72).
       
C.      Karakteristik Perkembangan Sosial Anak SD
       Berikut adalah karakteristik perkembangan sosial anak pada usia sekolah dasar yaitu minat terhadap kelompok makin besar, mulai mengurangi keikutsertaannya pada aktivitas keluarga. Pengaruh yang timbul pada keterampilan sosialisasi anak diantaranya berikut ini:
1.    Membantu anak untuk belajar bersama dengan orang lain dan bertingkah laku yang dapat diterima oleh kelompok,
2.    Membantu anak mengembangkan nilai-nilai sosial lain diluar nilainya, dan
3.    Membantu mengembangkan kepribadian yang mandiri dengan mendapatkan kepuasan emosional dari rasa berkawan.
8
 
       Menurut Hurlock (1978:44) mengemukakan ada beberapa pola perilaku dalam situasi sosial pada awal masa anak-anak yaitu sebagai berikut: kerja sama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empati, ketergantungan, sikap ramah, meniru, perilaku kedekatan.
       Perkembangan sosial yang di alami anak adalah proses penerimaan social. Berkenan dengan penerimaan sosial Hurlock (1978:46) mengemukakan beberapa tahapan (stage) dalam penerimaan kelompok teman sebaya adalah sebagai berikut:
1.    Reward Cost Stage
Pada stage ini ditandai adanya harapan yang sama, aktivitas yang sama dan kedekatan.
2.    Normative Stage
Pada stage ini ditandai oleh dimilik nilai yang sama, sikap terhadap aturan, dan sanksi yang diberikan biasanya terjadi pada anak kelas 4 dan 5.
3.    An Emphatic Stage
Pada Stage ini di miliknya pengertian, pembagian minat, self disclosure adanya kedekatan yang mulai mendalam di kelas 6.
       Melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, orang dewasa lainnya maupun teman bermainnya, anak Usia Sekolah Dasar mulai mengembangkan bentuk-bentuk tingkah laku sosial, diantaranya:
1.    Pembangkangan (Negativisme)
Bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Sikap orang tua terhadap anak seyogyanya tidak memandang  pertanda mereka anak yang nakal, keras kepala, tolol atau sebutan negatif lainnya, sebaiknya orang tua mau memahami sebagai proses perkembangan anak dari sikap dependent menuju kearah independent.
2.    Agresi (Agression)
Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi merupakan salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang seperti ; mencubit, menggigit, menendang dan lain sebagainya. Sebaiknya orang tua berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara mengalihkan perhatian atau keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang agresif maka egretifitas anak akan semakin memingkat.
3.   
9
 
Berselisih (Bertengkar)
Sikap ini terjadi jika anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau perilaku anak lain.
4.    Menggoda (Teasing)
Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) yang menimbulkan marah pada orang yang digodanya.
5.    Persaingan (Rivaly)
Yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. yaitu persaingan prestice  (merasa ingin menjadi lebih dari orang lain).
6.    Kerja sama (Cooperation)
Yaitu sikap mau bekerja sama dengan orang lain.
7.    Tingkah laku berkuasa (Ascendant behavior)
Yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bossiness. Wujud dari sikap ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam dan sebagainya.
8.    Mementingkan diri sendiri (selffishness)
Yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya.
9.    Simpati (Sympathy)
Yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya.



D. 
10
 
Tujuan Mempelajari Perkembangan Sosial Anak SD
       Seorang guru harus mengetahui tentang perkembangan sosial anak karena sangat berpengaruh terhadap tingkah laku seorang anak. Manfaat mempelajari psikologi perkembangan yang di dalamnya terdapat meteri perkembangan social anak sekolah dasar bagi guru atau calon guru, yaitu sebagai berikut :

1.    Guru/calon guru dapat menghadapi anak didiknya secara tepat sesuai dengan sifat-sifat khas yang ditampilkan anak didiknya itu. Sebagi contoh : anak berumur 6-12 tahun yang perkembangannya normal menunjukkan tingkah laku produktif tinggi. Pada periode ini anak ingin berbuat sesuatu yang menunjukkan hasil, memiliki ide yang banyak, yang ingin ditampilkannya. Oleh karena itu guru hendaknya memberi kesempatan dan rangsangan agar anak dapat mengembangkan berbagai keterampilan.
Guru/calon guru dapat Guru/calon guru dapat menghadapi anak didiknya secara tepat sesuai dengan sifat-sifat khas yang ditampilkan anak didiknya itu.
Guru/calon guru dapat
2.    memilih dan menentukan tujuan materi dan strategi belajar yang sesuai dengan tingkat kemampuan intelektual anak didik. Siswa sekolah dasar khususnya kelas rendah, sedang dalam tahap berfikir konkrit permulaan. Oleh karena itu tujuan belajar hendaknya yang sederhana dan dalam bentuk tingkah laku yang jelas. Demikian pula materi belajar hendaknya terkait dengan pengalaman anak yang ada disekitarnya. Contoh : Anak dalam belajar membaca, maka materi belajar hendaknya terdiri dari kata-kata yang pernah dialami atau dipahami anak melalui pengalaman lingkungannya.
3.    Guru/calon guru dapat menghadapi anak dengan benar dalam bentuk tingkah laku yang benar. Guru yang mempelajari psikologi perkembangan menyadari bahwa anak yang dihadapinya adalah sedang dalam proses perkembangan. Contoh : Wajarlah anak melakukan kesalahan dalam tingkah laku, karena kekurang tahuan dan kekurang mampuannya.
4.    Guru/calon guru dapat terhindar dari pemahaman yang salah tentang anak, khususnya mengenai keragaman proses perkembangan anak mempengaruhi kemampuannya dalam belajar. Ada anak yang cepat dan ada anak yang lambat perkembangan kemampuannya. Sebagai contoh : memperlakukan anak di dalam kelas tidaklah sama, karena pada prinsipnya akan kita jumpai paling tidak tiga kelompok anak taraf kemampuan yang berbeda yaitu anak yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. 
11
 
 






















BAB III
KESIMPULAN
 Dapat disimpulkan bahwa,
1.    Perkembangan Sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga dikatakan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral (agama). Perkembangan sosial pada anak sekolah dasar ditandai dengan adanya perluasan hubungan, disamping dengan keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya (peer group) atau teman sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah bertambah luas.
2.    Ada dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan sosial anak, yaitu faktor lingkungan keluarga dan faktor dari luar rumah atau luar keluarga. Dan Faktor Pendukung perkembangan anak, antara lain : (a) Terpenuhi kebutuhan gizi pada anak tersebut, (b) Peran aktif orang tua, (c) Lingkungan yang merangsang semua aspek perkembangan anak, (e) Peran aktif anak, (f) Pendidikan orang tua.
3.    Karakteristik perkembangan sosial anak pada usia sekolah dasar yaitu minat terhadap kelompok makin besar, mulai mengurangi keikutsertaannya pada aktivitas keluarga. Pengaruh yang timbul pada keterampilan sosialisasi anak diantaranya berikut ini:
a.       Membantu anak untuk belajar bersama dengan orang lain dan bertingkah laku yang dapat diterima oleh kelompok,
b.      Membantu anak mengembangkan nilai-nilai sosial lain diluar nilainya, dan
c.       Membantu mengembangkan kepribadian yang mandiri dengan mendapatkan kepuasan emosional dari rasa berkawan.
4.   
12
 
Seorang guru harus mengetahui tentang perkembangan sosial anak karena sangat berpengaruh terhadap tingkah laku seorang anak. Guru/calon guru dapat menghadapi anak didiknya secara tepat sesuai dengan sifat-sifat khas yang ditampilkan anak didiknya itu, Guru/calon guru dapat memilih dan menentukan tujuan materi dan strategi belajar yang sesuai dengan tingkat kemampuan intelektual anak didik, Guru/calon guru dapat menghadapi anak dengan benar dalam bentuk tingkah laku yang benar, dan Guru/calon guru dapat terhindar dari pemahaman yang salah tentang anak, khususnya mengenai keragaman proses perkembangan anak mempengaruhi kemampuannya dalam belajar.
13
 
 


















DAFTAR PUSTAKA

Hartono dan Sunarto. (2006). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Rineka  Cipta Jakarta.
Hurlock, E. B. (1999). Psikologi Perkembangan; Suatu pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Diterjemahkan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga.
Muijs dan Reynolds. (2008). Effective Teaching. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sinolungan, A. E. (2001). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Manado: Universitas Negeri Manado.
______. (2011). Perkembangan Sosial Anak Usia SD. [Online]. Tersedia: http://www.slideshare.net/shinta1304/perkembangan-sosial-anak-usia-sd/[16-2-2013].
______. (2011). Perkembangan Sosial Anak Usia SD/MI. [Online]. Tersedia: http://adibazhamutiara.blogspot.com/2011/03/perkembangan-sosial-anak-usia-sdmi.html/[16-2-2013].



Konsep Dasar Seni Rupa



A.      Konsep Dasar Seni Rupa

       Seni rupa adalah salah satu cabang kesenian,seni rupa merupakan ungkapan gagasan dan perasaan manusia yang diwujudkan melalui pengolahan median dan penataan elemen serta prinsip-prinsip desain.
       Seni rupa merupakan realisasi imajinasi yang tanpa batas dan tidak ada batasan dalam berkarya seni. Sehingga dalam berkarya seni tidak akan kehabisan ide dan imajinasi. Dalam seni rupa murni, karya yang tercipta merupakan bentuk dua dimensi dan tiga dimensi. Sehingga objek yang dibuat merupakan hasil dari satu atau lebih dari media yang ada (sebagai catatan bahwa media atau bahan seni di dunia juga tidak terbatas).
   Dalam berkarya seni, tidak pernah ada kata salah dan juga tidak ada yang mengatakan salah pada karya yang telah diciptakan. Namun demikian, di dalam proses berkarya seni, karena dalam hal ini adalah proses belajar, maka harus dilakukan dengan cara yang benar, sesuai dengan tujuan dari pembelajaran. Untuk anak usia dini (0 – 8 tahun), ketika belajar tentang seni rupa tidak hanya bertujuan untuk berproses berkarya seni saja, karena selain itu juga diharapkan dapat memberikan fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial, emosional serta kemandirian pada anak. Jadi dengan bimbingan yang tepat, seorang anak akan dapat melatih potensi-potensi yang bermanfaat.
       Seni rupa atau seni yang tampak adalah salah satu bentuk kesenian visual atau tampak ada yang tidak hanya bisa diserap oleh indera penglihatan, tetapi juga bisa oleh indera peraba, maksudnya adalah teksturnya dapat dirasakan, misalnya kasar, halus, lunak, keras, lembut, dsb. Namun tidak menutup kemungkinan tekstur ini adalah tekstur maya (ada namun tidak nyata) atau tekstur ini seolah-olah ada yang dikarenakan mata kita dikelabuhi oleh sesuatu yang tampak, misalnya sebuah foto kayu : disitu seolah-olah kita melihat adanya tekstur namun kenyataannya tekstur itu tidak ada jika kita merabanya
1. Fungsi Seni Rupa
Seni rupa dapat berfungsi sebagai :
a.         media ekspresi
b.         media komunikasi
c.          media pengembangan bakat
d.         media pendidikan.
     2. Aspek seni rupa
a. Aspek grahita
b.Aspek Garapan
c.Aspek Tata
                                                                                                                                  
3       .       3. Jenis Karya Seni Rupa
a.  Karya rupa murni yakni karya seni rupa yang sengaja diciptakan sebagai sarana ekspresi komunikasi,rekreasi dan terapi.Karya seni rupa murni ini dapat berupa dwimarta ataupun trimatra.
b. Karya seni rupa terapan yang sengaja dicipta untuk tujuan fungsional.Karya seni rupa ini pun mencakup 2 macam yakni dwimarta dan trimarta

B.       Konsep Pendidikan Seni Rupa SD

       Pendidikan Seni Rupa sesungguhnya merupakan istilah yang relatif baru digunakan dalam dunia persekolahan. Pada mulanya digunakan istilah menggambar. Penggunaan istilah pengajaran menggambar ini berlangsung cukup lama hingga kemudian diganti dengan istilah Pendidikan Seni rupa.Materi pelajaran yang diberikan tidak hanya menggambar tetapi juga beragam bidang seni rupa yang lain seperti mematung, mencetak, menempel dan juga apresiasi seni. Tujuan pengajaran menggambar di sekolah adalah untuk menjadikan anak pintar menggambar melalui latihan koordinasi mata dan tangan.
 Pendidikan seni merupakan sarana untuk pengembangan kreativitas anak. Pelaksanaan pendidikan seni dapat dilakukan melalui kegiatan permainan. Tujuan pendidikan seni dapat dilakukan melalui kegiatan permainan. Tujuan pendidikan seni bukan untuk membina anak-anak menjadi seniman, melainkan untuk mendidik anak menjadi kreatif. Seni merupakan aktifitas permainan, melalui permainan kita dapat mendidik anak dan membina kreativitasnya sedini mungkin. Dengan demikian dapat dikatakan seni dapat digunakan sebagai alat pendidikan. Pendidikan Seni Rupa adalah mengembangkan keterampilan menggambar, menanamkan kesadaran budaya lokal, mengembangkan kemampuan apreasiasi seni rupa, menyediakan kesempatan mengaktualisasikan diri, mengembangkan penguasaan disiplin ilmu Seni Rupa, dan mempromosikan gagasan multikultural.

C.      Perkembangan Konsep Seni Rupa

1.      Barat (Eropa dan Amerika)
a.    Ruskin (Inggris, 1857)
The Element of Drawing (menggambar bagian seni rupa dengan metode meniru dan latihan.
b.    Corrado Rici
Gambar Anak yang Unik
c.    Ebenezer Cokke
Gambar bagan/skema karya anak sebagai lambing ekspresinya
d.   Fredich Froebel
Mengganti pengembangan daya ingat dengan bermain seni rupa
e.    Pestalozzi
Pentingnya pembelajaran menggambar sebagai sarana mempertajam pengamatan-pengamatan dan memperoleh pengetahuan.
f.     Herman Lukena
Fase-fase menggambar anak yaitu, (1) Fase corengan, (2) Fase Keemesan, dan (3) Fase Kritis
g.    Frans Cizek
Beliau adalah bapak seni rupa anak yang mengembangkan Pendidikan progresif terhadap pendidikan ekspresi bebas.
2.      Indonesia
       Perubahan ke arah pembelajaran yang berbasis kompetensi. Siswa diharapkan mengenal budaya local. Dan mempertegas social budaya dalam seni. Mempertegas Kebudayaan local dengan memperbanyak kerajinan tangan dan ukir. Dan menjadikan pelajaran menggambar sebagai sarana berekspresi.
D.      Pendekatan Seni Rupa

        Pembelajaran Pendidikan Seni dilaksanakan baik dengan pendekatan terpisah dan terpadu. Pendekatan terpisah ialah melaksanakan pembelajaran setiap bidang seni, sesuai dengan ciri-ciri khusus dan kesatuan substansi masing-masing. Pendekatan terpadu ialah melaksanakan pembelajaran yang memadukan bidang-bidang seni dalam bentuk seni pertunjukan, seni multimedia, atau kolaborasi seni. Pembelajaran Pendidikan Seni secara terpadu meliputi pembelajaran apresiatif dan produktif.
Pembelajaran apresiatif secara terpadu dilaksanakan dengan kegiatan apresiasi terhadap karya seni yang merupakan perpaduan antara dua atau lebih bidang seni, baik secara langsung maupun melalui media audio-visual, misalnya pertunjukan musik, tari, teater, atau film. Pembelajaran produktif secara terpadu dilaksanakan dengan kegiatan berkarya dan penyajian seni yang melibatkan dua atau lebih bidang seni, misalnya dalam bentuk seni pertunjukan atau kolaborasi antar bidang seni.
Alternatif pelaksanaan mata pelajaran Pendidikan Seni sebagai berikut. Sekolah yang memiliki lebih dari satu guru bidang seni, masing-masing guru memberikan pembelajaran seni sesuai dengan bidangnya secara terpisah. Siswa memilih salah satu bidang seni sesuai dengan minatnya. Pembelajaan secara terpadu dilaksanakan dengan kerja sama antara guru-guru bidang seni yang bersangkutan. Sekolah yang hanya memiliki guru salah satu bidang seni, guru tersebut melaksanakan pembelajaran seni sesuai dengan bidangnya, tetapi sedapat mungkin juga melaksanakan pembelajaran seni secara terpadu, sesuai dengan kemampuannya.
Materi pokok yang bersifat teoritik tidak diberikan secara terpisah, tetapi secara integratif dengan materi kegiatan apresiasi seni, berkarya seni, kritik seni, dan penyajian seni. Pembelajaran yang bersifat praktek (berkarya) lebih berorientasi pada proses dari pada hasil, sehingga lebih menekankan usaha membentuk dan mengungkapkan gagasan kreatif dari pada kualitas komposisi yang dihasilkan.
       Dalam pembelajaran Pendidikan Seni, pengembangan sikap memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan keterampilan, dan pengetahuan. Untuk menunjang pembelajaran materi yang mengarah pada penguasaan keahlian profesional, termasuk menggambar dengan mistar (menggambar konstruksi), perlu ditunjang dengan program ekstrakurikuler, sesuai dengan bakat dan minat siswa.
        Di sekolah umum, baik pendidikan dasar maupun pendidikan menengah, pendidikan seni rupa sebaiknya ditempatkan sebagai mata pelajaran yang mengimbangi mata pelajaran lain. Pendidikan seni rupa yang dalam pelaksanaannya lebih memberikan kebebasan berekspresi dan memberikan saluran emosi akan sangat berperan dalam mengembangkan mental-spiritual anak-anak. Pendidikan seni sebagai pengimbang mata pelajaran lain –yang menekankan pada pengembangan rasio/intelektual- dibutuhkan dalam rangaka membangun semangat dan motivasi belajar yang utuh. Pendekatan dalam pelaksanaan pendidikan seni rupa di sekolah umum, terutama pada tingkat pendidikan lanjutan, harus memperhatikan dan mempertimbangkan bahwa pendidikan seni sebagai wahana bermain yang bermuatan edukatif dan membangun kreativitas.
       Jika kita menggunakan seni sebagai cara dan sekaligus sarana pendidikan, maka pendekatannya pun harus sesuai dengan tujuan penciptaan seni, meskipun seninya tidak kita tempatkan sebagai tujuan pendidikan. Pendekatan yang utama dalam pembelajaran pendidikan seni rupa ialah pendekatan inspiratif. Karya seni merupakan curahan emosi yang diberi bentuk yang indah dan kreatif. Karena itu karya seni hanya akan lahir dari hati penuh keharuan. Untuk memancing tercuurahkannya keharuan itu, maka kita gunakan pendekatan inspiratif. Pendekatan inspiratif akan mengembangkan inpsirasi, terutama untuk anak-anak yang memerlukannya, agar hatinya tergugah untuk berkarya seni. Pendekatan inspiratif ialah suatu cara yang dapat ditempuh untuk menggerakkan keharuan anak-anak agar mereka dapat mencurahkan ekspresinya ke dalam bentuk karya seni. Pendekatan inspiratif dapat menggugah keharuan karena pengalaman lama terpancing atau dapat juga memberi pengalaman baru yang menggugah keharuan anak-anak.




Bentuk-bentuk penggugah keharuan yang oleh Lansing disebut dengan istilah stimulation dan cultural stimulation. Ia juga membedakan atas:
                        - direct experience as a form stimulation,
                        - verbal stimulation,
                        - art material as stimulation, dan
                        - audio-visual aids as stimulation.

Untuk memperjelas perbedaan keempat stimulasi daya cipta seni, berikut ini akan dipaparkan secara singkat pengertiandan beberapa contohnya.
1. Stimulasi Klasikal Rutin
       Stimulasi ini yang paling memungkinkan ditetapkan dalam penyusunan rencana pembelajaran semester atau catur wulan. Hal ini disebabkan semua anak dalam satu kelas akan menghayati keadaan, kejadian, atau peristiwa yang sama (yang dijadikan stimulasi). Kejadian atau peristiwanya dapat diramalkan, karena datangnya rutin.

2. Stimulasi Individual Rutin
       Stimulasi individual rutin adalah pengalaman atau peristiwa yang dialami anak secara perorangan. Pengalaman atau peristiwa itu datang secara rutin. Misalnya hari ulang tahun yang dirayakan keluarga dan mengesankan bagi siswa. Cerita ibu menjelang tidur, jika sudah menjadi kebiasaan ibu bercerita pada anak sebelum tidur.

3. Stimulasi Klasikal Insidental
       Stimulasi ini dapat menggali kejadian-kejadian atau keadaan yang akan atau telah dialami oleh anak-anak dalam satu kelas yang terjadi secara insidental (sewaktu-waktu, yang tidak diduga sebelumnya, tidak berencana jauh sebelumnya). Misalnya, perkenalan dengan ibu guru baru, perpisahan dengan Bapak Kepala Sekolah, kawan baru kami, kelas kami juara kebersihan dan keindahan kelas, dan lain-lain.

4. Stimulasi Individual Insidental
       Stimulasi ini berguna untuk menggugah pengalaman perorangan yang bersifat sewaktu-waktu (insidental). Seorang anak pada suatu saat mengalami peristiwa yang tidak terduga dan peristiwa itu tentu saja tidak dialami oleh orang lain. Misalnya: mendapat hadiah lomba lukis, aku sakit gigi, ayahku wafat, adik kecilku lahir, dan sebagainya. Stimulasi jenis ini biasanya dilakukan pada kasus perorangan yang mengalami hambatan ketika diberikan stimulasi klasikal. Yang mengalami hambatan seperti ini sebagai gejala inspirasi yang distimulasi oleh guru ke semua anak (klasikal) tidak dapat berkembang dalam imajinasi anak tertentu. Sehingga guru perlu mendekati anak tersebut secara perorangan.

E.       Peran Seni Rupa

       Bermain bagi anak merupakan kegembiraan dan kesibukan yang penting. Dalam bertanya seni rupa dapat menimbulkan kegembiraan. Kegembiraan anak nampak dan terlihat disebabkan oleh keaktifan atau kesempatan bergerak, bereksperimen, berlomba dan berkomunikasi. Dapat pula dilihat betapa senangnya anak-anak berkarya melalui seni rupa, mereka akan bergerak-gerak dengan sadar atau tidak, mencoba-coba sesuatu yang diinginkan. Dalam kelompok mereka selalu berlomba untuk menyelesaikan karyanya sesuai dengan gagasannya. Apabila anak berhasil berkarya, dengan spontan ia akan berteriak dan bergerak, menandakan kegembiraannya. Anak berkarya sesuai dengan daya fantasinya dan apa yang dicapainya perlu mendapat pemahaman/pengertian orang lain. Bermain sangat berguna bagi perkembangan anak untuk persiapan dalam kehidupan masa dewasa. Permainan dimaksudkan antara lain : Permainan “membentuk”; melatih anak untuk berkarya. Permainan “fungsi”; melatih berbagai macam aktivitas fisik. Permainan “peranan”; berguna untuk menyiapkan anak mampu melakukan peranan dalam kehidupan di kemudian hari. Permainan “menerima”; berguna untuk memupuk kemampuan menerima kebudayaan.


1.    Peranan Guru

       Peranan guru di kelas adalah menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dan memahami karakteristik siswa sebagai anak didik di kelasnya. Dalam melaksanakan kegiatan kelas guru harus menjadi pengelola, perencana, penyuluh dan perancang program yang baik dan tuntas. Guru yang simpatik, imajinatif, kreatif dan luas pengetahuannya. Adalah prasarat mutlak bagi guru sekolah dasar.

2.    Peranan Sekolah
       Sekolah berperan sebagai tempat membina dan melatih diri melalui pengajaran dan pendidikan untuk mengatasi segala masalah di masyarakat kelak setelah anak menyelesaikan sekolah. Di sekolah anak-anak dihadapkan pada tuntutan untuk tetap bersikap teratur berdisiplin (diam/tenang), memperhatikan petunjuk-petunjuk guru, menguasai seluruh perangkat.



DAFTAR PUSTAKA



Sanyoto.(2005). Dasar-Dasar Tata Rupa dan Desain. Yogyakarta: Erlangga.

______. (2012). Seni Rupa. [Online]. Tersedia: http://tugaskesenian-desiastuti.blogspot.com/2012/07/perbedaan-karya-seni-rupa-anak-anak-dan.html/[15-2-2013]

______. (2012). Seni Rupa Pada Anak. [Online]. Tersedia: http://motzter.com/2045/peran-seni-rupa-pada-anak/[15-2-2013]

______. (2012). Konsep Pendidikan Seni Rupa. [Online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._SENI_RUPA/196202071987031-NANANG_GANDA_PRAWIRA/KONSEPPENDIDIKAN_SENI.pdf/[15-2-2013].

 

mars Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Daerah Purwakarta :)

Melintas Jalan Veteran Kota
Berjajar Pohon Tinggi Menjulang
Berada di tengah-tengah jantung kota
Berdiri UPI kampus purwakarta

Tinggalkan Ayah Tingglkan Ibu
Izinkan Kami Menuntut Ilmu
Kupinta Slalu Do'a Ikhlas dan Ridhomu
Untuk Kugapai semua Citaku

Jadi Pelopor Jadi Yang Unggul
Di Segala Bidang Ilmu
Terus Bersinar Terus Berkarya 
Membangun Pendidikan Bangsa


MEMBANGUN PENDIDIKAN BANGSAAAA..